SUBDIT KELEMBAGAAN DAN PESERTA DIDIK
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Opini » Menteri

-- MEMBENTUK GENERASI MASA DEPAN YANG TAHAN BANTING --- Ukuran sukses bukan hanya dinilai dari prestasi akademis yang gemilang saja. Sosok juara yang sesungguhnya adalah mereka-mereka yang memiliki karakter tangguh, kuat, dan berjiwa pendobrak. Dari sosok-sosok seperti inilah akan lahir juara-juara sejati, kumpulan generasi muda tahan banting yang akan membawa kemajuan pesat bagi bangsa Indonesia . PARA juara - baik itu yang lahir dari kompetisi semacam OSN atau dari berbagai ajang komperisi keilmuan lain yang selama ini rutin digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - bukan hanya harus terbukti pintar secara akademis. Mereka, para juara itu, juga harus membuktikan diri telah benar-benar memiliki mentalitas seorang juara sejati. Bukan sosok juara yang hanya pasrah dan puas menerima hadiah prestasi berupa beasiswa, medali, atau apa pun. Para juara yang berkarater adalah mereka yang tidak memiliki mental “peminta”. Jangan hanya pasrah menerima (hadiah) karena juara, tapi juga bisa menentukan apa keinginan mereka, langkah mereka selanjutnya setelah juara . CONTOHNYA, ketika saya tanya setelah juara kalian ingin apa, rata-rata menjawab ingin minta beasiswa. Jarang sekali mereka yang menjawab ingin melanjutkan pendidikan di universitas yang mereka mau. Kebanyakan justru belum memikirkan akan memilih universitas mana untuk melanjutkan pendidikannya. Padahal, tanpa meminta, beasiswa otomatis sudah menjadi hak mereka yang juara. Mentalitas seperti ini bukanlah mentalitas juara sejati . . KITA tentu akan terus mendukung kegiatan-kegiatan kompetisi keilmuan yang telah berjalan, karena banyak hal positif yang bisa dipetik. Namun, sekali lagi, jangan hanya sekadar mencari juara, tapi juga melahirkan sosok generasi masa depan berkarakter tangguh . KEMBALI ke persoalan mental dan karakter, diharapkan para juara yang memiliki kesempatan beasiswa bersekolah ke luar negeri agar bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.Mereka yang sudah menyelesaikan pendidikannya sebisa mungkin, ya, jangan terburu-buru pulang ke tanah air. Jangan takut, dicap tidak nasionalis, seperti mindset kebanyakan orang . NASIONALISME bukan persoalan lama atau sebentarnya tinggal di luar negeri. Nasionalisme adalah mereka yang mau memikirkan segala persoalan di negaranya, melakukan sesuatu untuk bangsanya, di mana pun mereka berada. Dengan terus meningkatkan potensi dan kualitas, dan kemampuan diri di luar negeri akan banyak hal yang bisa disumbangkan kepada negaranya ketika nanti kembali pulang . YANG menjadi persoalan saat ini, banyak siswa Indonesia - baik yang menempuh pendidikan di dalam negeri maupun di luar negeri - memiliki pola pikir sebagai pekerja. Artinya, setelah menyelesaikan jenjang pendidikan berlomba-lomba agar bisa mendapatkan posisi atau jabatan bagus di pekerjaannya. Kalau pola pikir seperti ini tidak diubah, jangan sampai pemerintah terkesan hanya sebatas bisa membina (mendidik) tunas bangsa tanpa bisa memetik manfaat dari usaha pendidikan itu bagi kepentingan bangsa. Artinya, jangan sampai generasi muda kita yang memiliki potensi besar kemudian akhirnya hanya dimanfaatkan pihak swasta ataupun perusahaan asing. Karena sejatinya, mereka lah yang seharusnya membangun Indonesia lewat potensi tersebut . KARENA tujuan ini, sangat diharapkan seluruh elemen yang terkait dengan dunia pendidikan, seperti Diirektorat Pembinaan SMA dan yang lainnya, agar juga memberi pelatihan kepemimpinan, manajerial, dan entepreneurship di sela-sela agenda rutin pembinaan OSN dan sebagainya. Tujuannya, agar pola pikir mereka tidak melulu hanya menjadi pekerja setelah lulus menyelesaikan pendidikan. Kita harus menjadikan mereka-mereka, para peserta didik, ini menjadi generasi pendobrak. Generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja baru atau bahkan temuan-temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan . BERBAGAI program pengembangan bakat dan minat peserta didik secara konsisten telah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, salah satunya oleh Direktorat Pembinaan SMA, setiap tahunnya - OSN (sains), FLS2N (seni), O2SN (olahraga), dan sebagainya – sampai kini telah melahirkan banyak juara di bidangnya masing-masing. Kita semua berharap, mereka inilah generasi berkarakter, generasi tahan banting yang akan memajukan bangsa ini . - TANGGUNG JAWAB BERSAMA - KETIKA kita berbicara Generasi Pembelajar maka jangan membayangkan kita membentuk dan mencetak generasi pembelajar, karena anak-anak kita lahir sudah menjadi pembelajar. Kalau bicara tentang tempat menumbuhkan potensi anak-anak, menumbuhkan karakter pembelajar, Ki Hadjar Dewantara mengistilahkan dengan sebuah taman, tempat di mana ada tanaman yang tumbuh . KITA sebagai pendidik, orang tua, sekolah, dan masyarakat bertugas memberikan rangsangan, memberikan rawatan agar bibit itu bisa tumbuh sesuai dengan potensinya, sesuai dengan minatnya, sesuai dengan cita-citanya. Bukan kita yang mencetak, mencekoki mereka dengan hafalan-hafalan seakan-akan anak kita dihitung dari luasnya hafalan. Justru yang harus kita dorong - seperti yang Ki Hajar Dewantara katakan – adalah memunculkan anak yang cerdik, anak yang bisa belajar untuk belajar . BEGITU kita memiliki generasi pembelajar maka anak-anak bukan saja dapat menghadapi masanya, tapi juga bermakna bagi masanya. Dan yang tidak kalah penting, Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah integritas. Karena itu, mulai sekarang kita bukan saja harus memastikan anak-anak tumbuh menjadi pembelajar, tapi juga harus memiliki karakater berintegritas . ADALAH tanggung jawab kita sekarang membangun integritas para peserta didik kita menjadi anak yang tangguh, pembelajar, dan Insya Allah masa depan Indonesia adalah Indonesia yang gemilang untuk semuanya.