|
TOFI Raih Empat Medali Emas dan Satu Perak di Zagreb, Kroasia Ungkapan rasa bangga dan ucapan selamat diberikann pada Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) saat mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta. TOFI berhasil meraih 4 medali emas dan 1 medali perak pada International Physics Olympiad (IPhO) ke-41 di Zagreb, Kroasia, 17 – 25 Juli lalu. Mereka yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia adalah; Christian George Emor SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, Sulawesi Utara (emas), David Giovani SMAK Penabur Gading Serpong, Banten (emas), Kevin Soedyatmiko SMAN 12 Jakarta (emas), Mohammad Sohibul Maromi SMAN 1 Pamekasan Madura, Jawa Timur (emas) dan Ahmad Ataka Awwalur Rizqi SMAN 3 Yogyakarta (Perak). Dari 82 negara peserta, hanya 16 negara yang meraih medali emas. Indonesia masuk dalam peringkat keempat dunia, peringkat pertama diraih China, kedua Thailand, dan ketiga Taiwan.
hanya 16 negara yang meraih medali emas. Indonesia masuk dalam peringkat keempat dunia, peringkat pertama diraih China, kedua Thailand, dan ketiga Taiwan. Peringkat selanjutnya diraih Hungaria dan Jerman dengan memperoleh 3 medali emas, sedang Inggris, USA, Rusia, dan Korea hanya memperoleh 1 medali emas. China dan Thailand menang dengan lima emas tanpa moderasi. Keperkasaan China diakui oleh tim lainnya, dan negara Tirai Bambu ini telah menginspirasi banyak negara, termasuk Indonesia agar kelak mampu menyamai kedudukannya di ajang event olimpiade tingkat dunia seperti ini. Biaya Kementrian Pendidikan Nasional
Pengiriman para peserta TOFI ke IPhO di Zagreb, Kroasia, seluruhnya dibiayai oleh Kementrian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Menurut DR. Mukhlis Catio, Kasubdit Pembinaan Sekolah Menengah Atas, ajang olimpiade ini merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan Direktorat secara rutin setiap tahunnya. Perolehan medali yang dicapai para siswa itu sangat membanggakan, para siswa merupakan pelajar pilihan yang disaring secara ketat mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi hingga nasional. Mereka merupakan juara di ajang Olimpiade Sains Nasional, terpilih untuk mengikuti pembinaan yang dilakukan secara serius oleh dosen pembina dari beberapa perguruan tinggi bergengsi yang ada di Indonesia. Ketatnya pembinaan di mana siswa harus tinggal untuk menerima berbagai kuliah dan pengararan dari para dosen, mencerminkan betapa seriusnya Direktorat Pembinaan SMA dalam mengaktualisasikan kemampuan siswa berprestasi Indonesia di ajang olimpiade internasional. Beri Kail Di sela-sela riuhnya peserta yang baru tiba di ruang kedatangan bandara, DR. Hendra Kwee selaku pimpinan tim menyatakan rasa surprisenya, ia dan timnya sangat senang dengan hasil yang diberikan para peserta, menurutnya ini merupakan hasil yang sangat baik. “sebelum moderasi kami hanya memperoleh tiga emas dan dua perak. Tapi nilai yang perak mendekati ke emas dan kita setelah kita moderasi naik menjadi empat emas dan satu perak. Keunggulan tim tahun ini dibanding tahun lalu hampir sama, mereka telah bekerja keras. Namun faktor keberuntungan juga berperan. Tahun lalu kita sebenarnya bisa berprestasi sebaik ini juga, cuma kadang-kadang kondisi dan faktor-faktor tak terduga bisa muncul. Anak-anak mengerjakan soal-soal selama lima jam, kadang-kadang masalah non teknis bisa muncul, seperti si anak gugup saat mengerjakannya. Faktor itu sulit diduga, mereka belajar sekian lama, tatkala dihadapkan dengan test sekian jam ada yang grogi. Kebetulan tahun ini mereka tenang saat mengerjakan soal. Karena pengalaman panjang, kita sudah tahu model soal-soal olimpiade, soal-soal yang kita berikan juga hampir mirip. Dari aspek materi kita sudah bisa menyamai. Kendalanya kadang anak-anak hanya lupa saja dan masalahnya kembali lagi dengan waktu, walapun tiga soal, tapi dari tiga soal itu beranak-cucu, panjang.” Paparnya. Untuk bidang studi fisika, Indonesia termasuk yang terbaik, negara-negara lain seperti Arab, Mongolia, Malaysia, Suriname minta belajar dari Indonesia. Secara spesifik mereka menanyakan bagaimana pola pembinaan di Indonesia. “Kami mendorong anak-anak untuk berpikir kreatif, pokoknya mereka kami berikan kesempatan untuk eksplorasi sendiri. Materi kami cukup banyak, jadi kami berikan mereka materi dasar yang selanjutnya mereka kembangkan sendiri dan materi dasar itu baru tumbuh baik kalau mereka bisa mengeksporenya. Ketika mereka berhasil menemukan jawabannya, itu maknanya dalam sekali. Seperti filosofi pendidikan, anak jangan diberi ikan, namun beri dia kail agar dia bisa menemukan jawabannya sendiri.” Pungkas Dr. Hendra Kwee. Matematika Level Agak Tinggi Sedangkan DR. Syamsu Rosid, pembina yang ikut dalam rombongan mengisahkansaatu timnya setelah tiba di Zagreb. Menurutnya, soal-soal yang diberikan, sebetulnya secara fisika tidak terlalu sulit, cuma soal matematika sangat susah, levelnya agak tinggi dibanding yang lain, “Tapi syukurlah anak-anak kita berhasil menyelesaikan, bahkan ada beberapa anak di dua dari tiga nomor soal teori, nilainya perfect sepuluh. Mereka adalah Christian George Emor dan David Giovanni.” Ketika nilai sudah dibagikan, dari lima siswa, tiga siswa sudah tidak perlu moderasi, dan yang satu karena perak umum, setelah moderasi alhamdullilah bisa naik menjadi empat emas. Satu peserta diusahakan memperoleh medali emas agar keseluruhan menjadi lima, tetapi masih ada gap nilai tiga lagi, secara keseluruhan, terpaksa harus puas dengan perak. Moderasi sendiri menurut DR. Syamsu Rosid merupakan complain yang kita sampaikan atas hasil penilaian tim juri. Dalam complain itu kita harus menjelaskan kepada juri secara sistematis dan jelas, kita bertdebat dengan tim juri untuk meyakinkan dan menterjemahkan jalan pikiran anak-anak kita sehingga si juri menerima dan setelah itu dia akan menaikkan nilai si anak tersebut. “Ini bukan berarti juri diminta mengkatrol nilai si anak, namun bisa jadi si juri tidak familiar dengan tulisan dan jalan pikiran si anak tersebut. “ Berkompetisi di negeri orang tentu berbeda dengan negeri sendiri. Selain cuaca, makanan dan budaya pun berbeda. Bisa mengalahkan semuanya dan pulang membawa medali kemenangan, adalah hal yang spektakuler dan patut disyukuri. Dan ini lah yang dirasakan para pemenang di ajang IPhO ke-41 di Zagreb, Kroasia ini. Christian George Emor SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, Sulut Saat pertamakali datang, untuk beradaptasi agak lumayan berat, hal ini disebabkan karena faktor cuaca dan budaya yang berbeda. Hari pertama mengikuti lomba saya sangat stres karena soal-soal yang dilombakan sangat susah khususnya di soal teori. Kemudian saya berusaha tenang, pada babak kedua saat lomba eksperimen , saya bisa mejawab pertanyaan lebih baik daripada teori. Yang dilombakan dalam ajang ini, teori terdiri dari 3 soal, pertama tentang Muatan Bayangan pada Konduktor, kedua tentang Fisika Cerobong Asap, ketiga Fisika Nuklis. Sedangkan soal praktek adalah Elastisitas Bahan, Sifat Material Bahan dan Magnet Keseimbangan. Semua soal berisi prinsip-prinsip dasar fisika dan menurut saya cukup sederhana, prinsip-prinsip itu kalau kita sadari keindahannya, bisa berkembang sangat jauh, Cuma dengan prinsip yang sederhana soal-soal itu bisa dikerjakan. David Giovanni SMAK Penabur Gading Serpong, Banten Menurutku semua soal baik it teori maupun eksperiman sama sulitnya, soal lima jam, teori juga lima jam. Untungnya saya cukup lama berlatih sehingga bisa memperoleh medali emas. Saya senang, dengan memperoleh medali belajar saya yang terbilang lama sudah semuanya bisa terbayar. Mohammad Sohibul Maromi SMAN 1 Pamekasan Madura Point saya sebelum moedrasi masih perak, setelah moderasi dapat emas, saat itu perasaan saya tentu senang. Sebelumnya saya menganggap soal pertama bakalan mudah, itu berlanjut di soal nomor dua. Tambah lama, soal-soal semakin bertambah sulit. Usai test saya merasa kecewa dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Tapi setelah memperoleh medali emas, baru saya lega, ini hadiah untuk sekolah saya dan masyarakat Pamekasan, Madura. Saya bangga bisa bawa nama Pamekasan. Lawan-lawan saya jago-jago apalagi China dan Taiwan. Kevin Soedyatmiko SMAN 12 jakarta Wah menang dan bisa memperoleh medali senang sekali, bahagianya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Selain happy memperoleh emas, saat sebelum berangkat juga merasa surprise karena Bapak Menteri menjanjikan kalau dapat emas di olimpiade internasional akan diberikan beasiswa. Berkat dukungan dari Kementrian Pendidikan Nasional, saya memperoleh motivasi untuk bergerak lebih maju lagi. Sudah dapat emas dan bakal dapat beasiswa lagi, hm bahagianya… Ahmad Ataka Awwalur Rizqi SMAN 3 Yogyakarta Meski hanya memperoleh medali perak Ahmad merasa inilah hasil maksimal yang ia capai. Pastinya saya senang dan bersyukur, alhamdullilah kerja keras selama berbulan-bulan belajar bisa terbayar. Saya berterimakasih pada Allah SWT, pada orangtua, pada adik-adik saya, juga tim pembina, dan Kementrian Pendidikan Nasional yang telah mensupport kita baik dengan pelatihan, biaya dan dukungan. Sekali lagi, saya juga berterimakasih pada teman-teman dan guru atas doa dan dukungannya. |